Celoteh Asa 39 (Antara ujian dan rasa syukur)
Kita semua hidup didunia dan tepatnya dibumi sang pencipta semesta yaitu Allah. Jauh sebelum kita ada dimuka bumi ini, telah banyak manusia pendahulu kita yang juga sama-sama berasal dari 1 manusia pertama yaitu Adam. Adam diciptakan Allah dan ditemani oleh hawa, tercipta dari tulang rusuk Adam itu sendiri. Dari sanalah asal muasal terbentuk umat manusia hingga sampai sekarang ini.
Siapapun kita, kenal atau tidak kenalnya dengan seorang yang jauh dari arah pandang kita dibelahan bumi sana, atau bahkan orang-orang disekitar kita, mereka memiliki ujian yang masing-masing diberikan oleh Allah. Semuanya pun berfokus pada apa yang masing-masing menimpa diri kita.
Tapi yang pasti, apa kita terus-menerus memikirkan apa yang terjadi pada diri kita?
Apa kita terus berada didasar terbawah saat diri kita bernaung lemah?
Apa kita terus berteriak dan menangis saat semua yang terjadi berlalu seenaknya terhadap kita?
Jawabannya hanya satu. Itu pilihanmu.
Kenapa?
Masing-masing kita punya porsi kekuatan yang berbeda-beda. Mungkin dihari ini kita lemah atas semua yang terjadi. Tapi kita tidak tau apa mungkin suatu saat nanti saat semua yang terjadi kembali kita bahkan bisa lebih kuat menerimanya dengan tidak terus-menerus mengeluh, berteriak, dan segala hal lain yang membuat kita semakin terluka. Kita punya pilihan untuk diam dan kita juga punya pilihan untuk lemah.
Namun, apakah saat kita lemah artinya kita lemah? Jawabannya tentu Tidak.
Semua itu merupakan sifat manusiawi. Sekuat apapun seseorang akan ada masanya mereka untuk lemah dan tak berdaya, begitu pun dengan selemah apapun seseorang akan ada masanya mereka untuk berhenti menangis. Itu pertanda kamu kuat.
Mungkin dirimu butuh lemah saat semuanya terasa begitu berat kamu jalani. Silahkan.. itu hak mu.
Tapi yang harus kamu tau, bangkitlah setelah dirimu membaik karena dunia akan terus berputar, waktu akan terus berjalan walaupun kamu terus mengeluh.
Persentase kehidupan yang diberikan tuhan sudah sesuai porsi masing-masing untuk kita. Semuanya sesuai takaran 50% lancar(kebahagiaan, kesehatan yang baik, rasa senang, haru, kesempatan, waktu), dan sisanya (kesedihan, kesehatan buruk, waktu sedikit, kesempatan yang hilang, kecewa, terluka) dsb
Semuanya diberikan Allah secara adil.
Namun kenapa masih ada yang menaruh iri kepada manusia lainnya sementara masing-masing kita dapat bagian dari itu semua?
Cek postingan lainnya : Disini
#Dimana letak rasa syukur itu?
#16September2022
@qiyamu_laila

Komentar
Posting Komentar