Celoteh Asa 57

Sebuah karya tulis yang ku beri nama Skripsi 

Aku Laila, saat ini tengah menjalani proses perkuliahan di semester 8. Ya, di semester ini adalah masa paling aku sukai. Karena selain sudah menuntaskan seluruh mata kuliah dikelas, kali ini aku hanya akan menempuh 1 mata kuliah saja. 

"Ngulang mata kuliah saat semester 4 dan 6 bisa kali ya, itung-itung perbaikan nilai." Pikirku kala itu.

Dengan semangat dan rasa bahagia tentunya aku memberanikan diri mengambil mata kuliah untuk ku ulangi di akun siakad kampusku. 

Flashback on ke beberapa Minggu sebelumnya

Masa PPL dan KKN telah berakhir, terasa sangat berbeda antara kuliah di kampus dengan praktik lapangan yang ku jalani saat semester 7 lalu. ada banyak hari libur yang mendatangi sehingga aku berkesempatan untuk mengajukan judul secepat mungkin dari teman angkatanku yang masih belum selesai masa pulang kampungnya pasca KKN. 

Juli - Desember 2022

"Hemm bisa ngga ya aku menjalani PPL ini." Sebuah pertanyaan mendasar yang terus membuat ku overthinking hingga berminggu-minggu lamanya. 

"PPL itu seru loh Laila."

"Kakak dulu waktu PPL juga begitu, gapapa nanti terbiasa. Jalani aja"

Ucap beberapa senior yang sudah aku tanyakan pengalaman saat PPL mereka. 

Tibalah masanya kami dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kami menuju sekolah. Diantar secara resmi, lewat suatu pertemuan terbuka dengan beberapa orang penting di sekolah. Hingga setelahnya, masing-masing kami mendapat guru pamong yang akan menjadi masa pembelajaran saat praktik mengajar nanti. 

Pak Hasrizal, yang kerap disapa pak i oleh rekan guru dan murid lainnya. Terpilih menjadi pamongku, mengampu mata pelajaran matematika wajib kelas XII jurusan IPS dan IPK. Pak i mengajar 5 kelas, dan dalam seminggu ada sekitar 10 kali masuk (20 JP) ke kelas, setelah ku hitung. Pak i sudah lama mengajar disekolah ini, bahkan saat aku masih berstatus murid disini. Ya, sekolah ini merupakan sekolah ku dulu dan sekarang aku kembali lagi kesini sebagai guru ppl. Suasananya masih sama saat aku bersekolah disini dulu. Namun tentunya sudah banyak perubahan terutama makin bagus fasilitasnya. Awalnya aku kurang mengenali bapak, karena saat bersekolah dulu aku jurusan IPA dan pak i sejak dulu selalu mengajar kelas untuk IPS dan IPK saja. Dulu, aku hanya sesekali melihat bapak saat ditugaskan guru untuk meletakkan lembar tugas atau saat menemui bapak atau ibuk lain diruang guru itu. 

Bapak orangnya baik dan sangat berjasa mengajariku saat PPL. Mulai dari kapan harus masuk kelas, sikap yang harus dilakukan saat menghadapi murid yang telat, makan dikelas, dan sebagainya. 3 bulan lamanya aku PPL, ada banyak hal yang sudah aku pelajari disini. 

Beberapa dari muridku (saat PPL) mengatakan suka dengan cara mengajarku. Ternyata kebahagiaan menjadi seorang calon guru itu sederhana ya. Aku jadi lebih bisa mengekspresikan diri didepan kelas, belajar menyikapi banyak hal atau bahkan mengendalikan sabar saat keadaan tak seperti harapan. Jika kalian berpikir masa PPL ku sungguh indah. Iya, memang indah. Ada banyak momen yang tak akan bisa untuk diulang lagi dengan mereka. Namun, seindah apapun masa PPL bagiku selain rasa senang dan bahagia, tentu akan ditemui kendala saat proses nya. Hal itu lumrah terjadi, karena kehidupan selalu ada porsinya masing-masing tak melulu soal kesenangan. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar menerima setelah beberapa hal yang tidak kita duga datang kepada kita. 

Masa PPL kami akan berakhir sebentar lagi, aku berpamitan dengan murid-murid yang aku ajar dikelasnya. Ada rasa berat meninggalkan sekolah ini dan anak-anak muridku. Aku mulai menaruh rasa sayang terhadap mereka. Waktu berlalu terasa cepat bagiku disini. Ingin aku mengharapkan untuk perpanjangan masa PPL disini namun tidak akan bisa karena setelah ini, aku akan menjalani KKN. Hingga tibalah masanya kami berpisah mengakhiri hubungan antara guru ppl dan murid. Sampai jumpa, murid-muridku. Ibuk menyayangi kalian. 

Seringkali masa bahagia yang perlahan menyesakkan itu menjadi 2x lipat muncul saat ingin berpisah 

KKN 

Lega karena sedikit demi sedikit proses telah aku lalui. Namun kembali lagi ke setelan awal. "aduhh, bisa ga ya KKN ini. Caranya gimana? Apa aja yang harus dilakukan?" Dan segala macam bentuk pertanyaan serupa. 

Namun masa KKN ku tidak berat terasa karena aku kenal dan dekat dengan seorang teman yang aku kenali 3 bulan lalu secara virtual. Namanya Laila, sama seperti namaku. Kami kenal pertama kalinya secara tidak sengaja lewat proses pelatihan KKN beberapa bulan lalu yang diadakan kampusku. Seluruh nama pada fakultasku diurut secara abjad, bukan secara prodi lagi. Hingga kami bertemu saat itu dan lanjut berkenalan secara virtual. Saat KKN, kami dijuluki si kembar karena selalu nempel kemana-mana. Dimana ada Laila, disitu juga ada Laila. Ah ada-ada saja mereka. Tapi aku senang karena punya teman seperti Laila. Hingga 40 hari sampai masa KKN habis. 

Berat sekali rasanya pergi meninggalkan daerah yang ku tempati selama KKN. Ada banyak hal yang tentunya tidak mungkin dapat ku ulangi lagi. Eh tapi bisa kok, kalau aku ngulang mata kuliah KKN lagi. Tapi jangan deng, engga semua hal yang akan dilakukan berulang akan sama rasanya kembali, hihi. Aku langsung balik ke kos ku di Padang. Berjumpa kembali dengan teman-teman dikos yang cuma beberapa orang yang engga pulang kampung. "Hmm gapapa sepi, setidaknya aku punya teman disini." Pikirku kala itu. 

Menghabiskan waktu berjam-jam rebahan sembari scroll Instagram. Setelah rasa penat ku hilang, aku mulai mencari judul untuk skripsi yang suatu saat akan menjadi karya tulis abadi dalam hidupku kini dan nanti, hiyaakk. Dan tentunya akan dipertanggungjawabkan hingga aku tamat nanti. 

"Kalau bisa saat mengajukan judul itu persiapkan minimal 2 judul. Jadi ga habis waktu cuma buat ajukan judul" pesan papaku. 

Aku yang masih bingung, judul apa yang ingin ku pilih hingga aku mencari dari berbagai sosmed. "Hmm... Ngga ngerti." Berminggu-minggu lamanya aku membiasakan diri untuk mencari pedoman judul untuk proposal skripsi ku hingga terkumpul lah 30 an judul nya. Aku seleksi kembali hingga menyisakan 7 judul yang ku rasa bisa untuk aku kembangkan. Untuk mengajukan judul kepada pembimbing ku aku hanya memilih 2 judul saja yang akan aku ajukan nantinya. Namun, usut punya usut salah seorang teman menghubungiku. "Laila, kamu dipadang kan? Udah ajuin judul belum" dia adalah Titik, teman sekelas ku namun beda pembimbing.

"Belum nih tik, tapi besok rencananya. Kamu gimana?" Tanyaku

"Aku rencana juga besok, La. Oh ya, kamu nulis sampai bab berapa?" Tanyanya

"Hm? Maksudnya? Kok pakai bab?" Dahiku mengernyit tak paham maksudnya. 

"Kamu sama buk Nana kan?" Tanyanya lagi

"Iya tik" balasku

"Sama buk Nana, ajukan judul harus buat 3 bab dulu, La" sambung nya

Aku kaget. Belum juga pasti diterima, masa langsung bikin 3 bab dulu. Keluhku saat itu. 

Tak ingin tertinggal lebih lama, aku langsung membuat bab 1-3 dengan 1 judul sekaligus tanpa aku paham dengan maksud judul itu dengan bantuan mbah google.

"Yang penting ada" pikirku saat itu.

Keesokan harinya, aku bersama titik menuju kampus ke ruangan dosen pembimbing masing-masing. Judul proposal ku ditolak mentah-mentah oleh pembimbing ku. Sebelum aku beranjak pergi, aku sodori kembali judul proposal kedua yang hanya bisa aku selesaikan 1 bab saja. "hmm, ini boleh. Tapi coba cari jurnal yang menyangkut teori ini" sahut pembimbing ku.

Ah aku senang sekali. Dan langsung bertemu titik, namun sayangnya judul titik ditolak pembimbing nya. Kami pulang dan berjanji akan pergi kembali esok harinya lagi. 

Aku terus-menerus mencari jurnal yang disuruh pembimbing ku, hingga aku menyadari 1 hal. "Bener ga sih ini judul yang mau aku gunakan sampai tamat? Teori nya aja aku ngga paham? Pake nama ahli lagi?" Raguku saat itu. Hingga saat aku telah menemukan jurnal yang sesuai dengan teori dari ahli proposal ku itu. Langsung ku temui ibu pembimbing ku keesokan harinya. Namun, kalian tau jawaban pembimbing ku apa? "Coba jangan pake teori ahli. Rasanya sudah digunakan ditahun kemarin" ahh sudahlah...

Bertemu titik, hingga ia mengabarkan bahwa judul barunya juga kembali ditolak pembimbing lagi. Sabar ya tik, kita coba lagi. Sahut kami berbarengan. 

Hampir 2 Minggu lamanya, aku berurusan dengan pembimbing ku perihal judul kemarin. Hingga suatu masa pembimbing ku berujar, "Laila, coba cari judul lain " oke, setidaknya ini pasti dibanding hari-hari kemarin. 

Aku kembali mencari judul yang ku rasa bisa aku kuasai. Dan setelah pertemuan ke 8 (1 bulan setelahnya) judul ku di ACC pembimbing ku. Dan tentunya akulah yang pertama dapat ACC dari pembimbing ku diantara teman sepantaran yang sama pembimbing nya dengan ku, yeyeye. 

Flashback off - Januari 2023

Hmm, kayaknya hidupku terlalu datar. Ke kampus cuma menemui dosen pembimbing tanpa ada kegiatan lainnya. Dan juga, judulku juga sudah di ACC pembimbing. Hingga aku mengulangi mata kuliah lagi. 

"Pokoknya nilai C dulu tuh harus A" pikirku saat itu.

Salah satu mata kuliah yang paling banyak ditakuti orang-orang adalah Aljabar Linear Elementer, mata kuliah semester 4 dengan perpaduan kalkulus diferensial, kalkulus integral, kalkulus multivariat, vektor, dan sebagainya.

Aku memberanikan diri mengambil mata kuliah itu. Ternyata dari 70% teman-teman ku yang mendapat C dan D di angkatan ku, ada sekitar 40% orang yang berani mengulang kembali seperti ku. 

Berbulan lamanya, aku disibukkan dengan tugas kuliahku yang bertumpuk karena tugas yang bejibun. Hingga aku kewalahan dan sedikit terhambat dengan proposal skripsi ku. 

Akhir semester 8

Aku tidak sabaran menunggu hasil nilai mata kuliah yang ku ulang. Namun, hasilnya sangat jauh dari ekspektasi ku. 

"Tau begini, lebih baik aku tidak mengulang" pemikiran buruk seperti itu bermunculan dipikiranku. Hingga aku sadari, segala sesuatu tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Walau sekeras apapun kita mencoba. 

Waktu demi waktu terus berjalan, tak bisa ku pungkiri, perlahan teman-teman kelasku juga telah banyak yang seminar proposal. Menyisakan aku dan teman ku 1 orang lagi. Apa aku kecewa? Ya bisa dibilang begitu. Apa aku marah ? Untuk apa aku marah dengan keadaanku. Apa aku bersedih ? Jika kalian jadi aku, apakah kalian akan bersedih ? Aku sendiri, hanya bisa merenung. Dahulu, aku adalah siswa yang tak kenal pantang menyerah disekolah. Setiap ada hal yang sulit. Aku selalu berhasil memecahkan nya. Hingga aku berhasil menggenggam juara 1-2 hingga 3 tahun lamanya. Namun sekarang, kenapa juara 1-2 dari belakang? Bohong jika aku tidak bersedih. Aku akui, aku bukan orang yang ambisius seperti dulu. Namun kini, aku sedikit kewalahan menghadapi dunia akademis di perkuliahan. 

Rasa sedih biasanya datang atas sesuatu yang gagal kita harapkan 

Masa libur hampir datang dan aku pulang kampung. Sebenarnya aku bisa saja tidak pulang dan berjuang kembali memperjuangkan judulku dulu. Namun, saat ini aku ingin menenangkan diri dirumah dulu. Hingga tak terasa 1 bulan lamanya. 

Niatku, dibulan Agustus aku akan ke Padang, karena juga bertepatan dengan selesainya ibadah haji dosen pembimbing ku. Namun, takdir berkata lain. Aku mengalami sedikit masalah asmara. Sejujurnya hal ini sepele bagi beberapa orang. Namun bagi orang yang telah tau rasanya, aahhh sudahlah...

Kata orang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati
Tapi menurutku keduanya sama-sama sakit

Setelah 2 bulan dirumah, aku kembali ke Padang menuntaskan segala hal yang tertinggalkan dulu. Dimulai dari judul yang harus aku ajukan ke dosen pembimbing 2 lagi, ke prodi mendaftarkan judul kembali, hafalan Al-Qur'an juz 30, TOEFL, dan sebagainya.

Perlahan aku menuntaskan satu persatu syarat seminar proposal (sempro) ku. Syarat seminar proposal dijurusan kami adalah menyetor hafalan Alquran juz ke -30 (100%) + ayat kursi. Alhamdulillah nya, aku telah hafal 70% dan tinggal 30% lagi untuk menghafal serta menyetor nya lagi. 

Alhamdulillah Allah mudahkan urusanku. 

Sebulan setelahnya, aku mengajukan judul yang telah di ACC tadi kepada prodi ku. Namun, kembali ditolak. Tapi untungnya, ketua prodi ku memberikan saran perbaikan judul dengan tidak jauh berbeda dengan makna judul sebelumnya. Hingga aku mengurus segala hal agar aku bisa seminar proposal secepatnya. 

Surat undangan dari akademik mahasiswa (akama) kampus ku telah mengeluarkan surat yang harus aku bagikan ke beberapa dosen yang tertera di surat undangan itu. "Alhamdulillah, akhirnya sudah dapat pembimbing 2 untuk seminar proposal ku nanti" ucapku dalam hati. 

Sore harinya sebelum aku meninggalkan kampus, aku bertemu Laila. Wajahnya murung tak seperti biasanya. Ku dekati dan ku ajak dia duduk di pelataran kampus. Hingga ia menatapku dengan muram. Ia menceritakan keadaannya, aku terpaku sekaligus sedih mendengar nya. Sudah lumayan lama tak bertemu lagi dengannya setelah KKN selesai, hingga sekarang ia hampir selesai dengan skripsi nya. "besok hari terakhir pendaftaran wisuda, Lail. Dosen Ala tolak mentah-mentah menandatangani surat selesai munaqasah." Sahutnya sambil menangis. Ku biarkan ia menceritakan apa yang ingin dibicarakan nya hingga sebelum hari mulai gelap. "Kamu gimana Lail? Udah selesai?" Tanyanya. "apanya Ala?" Jawabku. "Skripsi Lail udh sampai mana?" Balasnya. "Ooh skripsi. Doakan La bisa sempro secepatnya ya Ala" ucapku sambil tersenyum. Kami menuju masjid kampus dan tertawa bersama. Aku rindu dengannya, 6 bulan tidak bertemu karena sibuk dengan urusan masing-masing.

Terkadang, seseorang yang tengah bersedih tak selalu ingin untuk dinasehati. Ada masanya ia hanya ingin didengarkan untuk mencurahkan yang dirasakan hingga kesedihan itu perlahan menghilang. 

Perlahan namun pasti, dihari aku ingin memberikan surat undangan ke pembimbing 2 ku. Judulku langsung ditolak, tanpa dilihat proposal ku yang 3 bab itu. "kenapa kok lama sekali ananda mengajukan judul ke saya. Judul ananda itu sama dengan anak bimbingan saya. Coba ganti lagi variabelnya." Sedih ? Tidak boleh sedih saat tertinggal. Harus maju. Aku kembali ke prodi dan mencari buku judul dari seluruh mahasiswa yang mengajukan judul. Dan benar saja, ada oranglain dari kelas sebelah yang seangkatan dengan ku. Menggunakan judul yang 90% sama denganku. Padahal urutan namaku masuk 10 teratas pengajuan judul dari tahun lalu. Dan persyaratan pengajuan adalah tidak boleh meniru judul orang lain yang sudah tertera dibuku judul prodi. Ah, ingin rasanya marah namun apalah daya, ini semua juga kelalaian ku yang tak langsung seminar proposal saat judul di ACC dari berbulan-bulan lalu.

Bila hari ini kamu tidak berjalan mengusahakan apa yang kamu inginkan 
Mungkin dihari esok kamu perlu berlari mengejarnya sampai menjadi milikmu lagi

Aku kembali memikirkan variabel baru untuk judul proposal skripsi ku. Hingga aku menemukan sebuah ide dari sahabatku, Vira. Dia berjasa membantu ku selama ini baik dari sisi akademis kuliahku hingga hal lainnya. 

Aku ajukan judul itu keesokan harinya dan Alhamdulillah pembimbing 2 ku menerima dan langsung ACC kan judul tersebut. 

-14 Desember 2023- 

Kehendak Tuhan, akhirnya aku sampai ditahap ini. Beberapa orang mungkin akan berkata, "kenapa lambat sekali kamu?". Tidak masalah. Terserah mereka berpikir apapun tanpa aku harus menjelaskan kepadanya. Dihari yang sama itu juga aku langsung menuntaskan seluruh hafalan juz 30 yang tersisa lagi. Hingga aku berhasil dan langsung mendaftar ujian Komprehensif. Alhamdulillah akhirnya aku masuk kelompok 1. 

Libur kuliah sudah hampir masuk dan pastinya kos an ku akan sepi. 

Orang yang dekat denganmu tidak terlalu peduli dengan cerita detail darimu, karena mereka lebih mengkhawatirkanmu
Dan orang yang tidak dekat darimu tidak peduli denganmu, karena mereka hanya penasaran dengan cerita sulitmu

Januari 2024 

Aku mulai mempersiapkan bahan untuk penelitian. Kedua dosen pembimbing ku temui. 

"saya akan tandatangani, dengan catatan sudah ditandatangani seluruh dosen yang tertera disana" sahut pembimbing 1 ku. 

"Baik buk" balasku.

Aku pasrah, dan langsung mencari dosen psikologi jurusan lain mulai dari prodi bimbingan konseling Islam, dosen psikologi Islam dan dosen terbaik di fakultasku. Hingga 2 minggu lamanya baru 1 dosen yang sudah selesai perihal validator penelitianku. Jika kalian bertanya mengapa selama itu? Aku melaksanakan ujian Komprehensif selama 3 Minggu lamanya. Hingga sambilan menunggu dosen tersebut memeriksa lembar validator penelitian ku. 

"Oke, sisa 1 dosen lagi. Siapa ya kira-kira yang bisa?" Tanyaku dalam hati.

Ku tanyakan seluruh informasi mengenai dosen kepada teman angkatanku. Hingga salah seorang temanku, menyuruh untuk ke salah satu dosen yang pernah mengajar disini namun sekarang sudah tak dikampus ini lagi. 

"Coba deh sama ibuk itu Laila. Tapi ibuknya udah ga ngajar disini lagi dari tahun kemarin" ucapnya

"Hm . Kampus mana ibuknya sekarang?" Tanyaku

"Di Unes Laila" balasnya

Aku tidak mengetahui dimana kampus Unes itu berada. Aku ingat, ada beberapa orang teman MAN ku yang berkuliah disana. Namun sayangnya, kami lost contact. Dengan tekad, aku memberanikan diri pergi ke Unes ditemani adik tingkat semasa MAN dulu. Sesuai petunjuk google map kami pergi dengan salah satu aplikasi kuning yang tengah marak saat ini dikota Padang. 

"Alhamdulillah, akhirnya sampai unes juga." Aku perlahan memasuki kampus yang saat itu diramaikan oleh mahasiswa yang seperti nya baru selesai ujian. Terlihat dari mereka yang mengenakan baju hitam putih. Perlahan, aku mencari fakultas yang sekiranya sama dengan fakultasku. Mengingat, tidak mungkin jika dosen ku itu ngajar selain fakultas tarbiyah (keguruan). Aku beranikan diri dan bertanya ke salah satu satpam kampus yang saat itu tengah membersihkan halaman. 

"Permisi pak, mau tnya" 

"Oh iya .. tnya apa dek"

"Fakultas keguruan dimana ya pak" berharap bapak itu mengetahui letak fakultas yang ku cari.

Agak lama bapak itu berpikir hingga beliau menanyakan kembali.

"FKIP maksudnya nak?" 

"Hmm iya pak" sembari memikirkan FKIP itu fakultas ilmu pendidikan bukan ya...

"Itu yang S1 kan?" Tanya beliau lagi

"Iya pak" balasku

"Bukan disini nak. Disini Pascasarjana." Jawab beliau

Sadar, kalau kami salah alamat. Dengan cepat aku berpamitan dan kembali keluar dari kampus Pascasarjana ini. 

"Aduh, sejak kapan kampus Unes ada 2 ya." Tanyaku pada Ryanti, adek tingkatku

"Hmm . Entahlah kak. Nti pikir akk tau kampusnya" balasnya.

"Akk cuma nengok google nti dan alamatnya disini katanya. Yaudahlah, udah terlanjur. Kita lanjut aja dulu jalan. Kan kata bapak tadi sekitar 500m kedepan, tiba di FKIP" ucapku pada Ryanti yang seperti kelelahan. 

Kami menertawakan diri kami. Sambil bertanya-tanya ini udah 500 m belum ya. Kami terus berjalan dan bertanya kepada beberapa penjual makanan jalanan. Hingga tak berselang lama kemudian. Kami menemukan sebuah atap kampus yang kami perkirakan itu adalah kampus Unes. Tanpa ragu, kami mencari jalan kecil menuju kampus itu hingga sampailah kami ke kampus Unes.

"Nti, belok kanan apa kiri ya kita" tanyaku sambil melirik ke kanan kiri. 

"Ngga tau kak." Balasnya

"Hmm .. kayaknya kiri deh, kalau kanan kayaknya rektorat."

Tak ingin putus asa karena salah mencari, kami menanyakan ke salah satu satpam kampus yang tengah berdiri di tepi jalan. Beliau menunjukkan arah FKIP. Kami menelusuri setiap gedung hingga berhasil menemukan nya.

Dari kejauhan ada salah satu perempuan yang ku duga itu juga merupakan salah satu mahasiswi disini. 

"Permisi kak, mau tnya.." ucapku

"Oh ya kak, boleh" balasnya

"Ruang dosen FKIP dimana ya kak?" 

"Oh disini kak" dia lalu menunjukan kami arahnya. Dan setelah kakak tadi pergi, aku beranikan diri untuk masuk ke ruangan itu. 

Lambat laun tak ku temui ibuk dosen yang telah ku hubungi hari sebelumnya itu. 

"Permisi buk, mau tanya. Ada buk Yuliani disini buk?" Tanyaku

Awalnya semua dosen tidak melirik ke arahku. Namun ku dekati salah satunya dan ibuk itu memberitahukan jika buk Yuliani hari ini belum ke kampus. 

Keluar dari ruangan itu, aku dan ryanti duduk sebentar di salah satu pelantaran kampus Unes yang sama-sama pertama kali kami lihat. Tak berselang lama kemudian, aku menginfokan ke buk Yuliani jika aku sudah sampai di kampus Unes. 

"Oh iya Atul, ibuk sekarang ndak ke kampus" balas beliau

"Ke UNP saja nanti kita ketemu ya jam setengah 11" sambung beliau

"Baik buk" balasku pada chat wa 

Melepas penat menantikan yang sia-sia, kami bercengkrama hingga hampir pukul setengah 11. Beruntung, saat akan memesan ojek online ibuk Yuliani mengabari kembali. 

"Atul, jam 12 aja nanti ya di SD** sekalian ibuk mau jemput anak ibuk" balas beliau

"Baik buk"

Beberapa perjalanan mengantarkanmu pada tujuan
Dan sisanya mengajarkanmu rasa sabar

Hitung-hitung healing ke sini aja kali ini. Memutar otak, kami pergi ke SD dipukul 11 dan memilih menunggu di SD saja. 

Hari sudah pukul 12, tapi ibuk itu belum ku temui. Pasrah, hingga akhirnya setengah jam kemudian ibuk itu datang dan langsung berkonsultasi dengan beliau. 

Sebelum pulang aku dan ryanti sudah antisipasi bahwa didekat kami ada tai anjing, namun sayang karena antusias dengan pamitan beliau. Membuat kaki ku terarah ke... Ah sudahlah

Alhamdulillah udah dapat tandatangan 4 dosen. Tinggal dosen pembimbing 1 lagi. 

Akhirnya aku sudah dapat mengurus ke akama perihal surat izin penelitian ku untuk di ajukan ke kementerian agama. Dihari itu juga aku pulang kampung, dan besoknya langsung ke kemenag. Hampir sejam disana, akhirnya urusanku disana telah selesai. Tinggal ke sekolah memberikan surat izin penelitian dari kemenag. 

Alhamdulillah, Minggu depan aku sudah bisa penelitian disini.

Namun, wakil kepala kurikulum berpesan kepada kami. Jika setelah penelitian nanti, menyerahkan resume/ringkasan penelitian ke sekolah agar dapat mengurus surat selesai penelitian. Serta jika sudah tamat kuliah nanti, menyerahkan skripsi 1 eks ke perpustakaan sekolah. 

2 hari lamanya aku penelitian disekolah membuat teringat masa PPL kemarin. Rindu masa masih PPL dulu. 

Setelah penelitian ku selesai, aku mengurus surat selesai penelitian ke PTSP disekolah. Namun ada sedikit kendala, karena suratnya belum bisa diurus dikarenakan bulan yang tertera di penelitian itu sisa 2 bulan lagi. Hmm sayang sekali.. namun ku perjelas ke PTSP jika yang disurat itu merupakan masa berlakunya surat. Syukurnya PTSP mau mengurus nya lagi. Jika tidak, tentu aku harus menunggu hingga April nanti, huhu.

Back to Padang - 18 Februari 2024

"Laila... Apa kabar? Kok jarang keliatan? udah ke buk Nana?" Tanya salah satu temanku saat aku melewati ruang prodi.

"Hehe.. Alhamdulillah baik. Ini mau ke buk Nana. Kamu gimana?" Balasku

"Hem kebetulan banget, bareng yuk Laila. Dari tadi pagi aku dikampus takut ketemu ibuk sendiri." Sahutnya

Kami berjalan menuju ruangan dosen pembimbing kami. Hingga sesampainya diluar ruangan tersebut kami takut dan saling mengalah agar salah satu dari kami duluan masuk ke ruangan buk Nana. 

"La, kamu aja duluan. Aku takut." Ucapnya

"Eh kamu aja dulu, kan kamu yang sampai dikampus duluan." Balasku

Karena tak ada yang mau masuk duluan. Hingga kami dikejutkan dengan keluar nya buk Nana dari ruangannya. Kami terdiam dan menghela nafas. Terduduk dan menunggu kembali buk Nana hingga beliau datang ke ruangan nya. 

Urusanku dengan buk Nana sudah selesai, aku diperintahkan untuk menghadap dosen pembimbing keduaku setelah selesai revisi hasil penelitian dengan buk Nana (dosen pembimbing 1) ku. Aku pulang dan merevisi skripsi ku. 

Keesokan harinya, aku langsung menuju ruangan buk Oji selaku dosen keduaku. Beliau sangat jarang keliatan oleh ku dikampus. Aku duduk di pelataran dekat gedung dosen dan guru besar. Sejam menunggu hingga aku bertemu temanku. 

Aku menuju masjid kampus untuk melaksanakan sholat Zuhur terlebih dahulu. Kabar yang ku dapat dari temanku, buk Oji hanya menerima bimbingan setiap Rabu dan Jum'at saja. Beda halnya dengan buk Nana, yang bisa ditemui kapan saja asalkan beliau ada di ruangannya. 

Aku menghela nafas dan menyadari bahwa hal ini harus terus aku lakukan hingga benar-benar selesai dengan proses skripsi ku. Jika dulu aku bisa lebih santai dan selalu bersama teman-teman ku untuk menemui dosen, kini aku pergi sendiri dengan waktu yang lebih cepat dibanding teman-temanku berharap dapat menemui dosenku itu. Nasi sudah menjadi bubur, waktu yang telah ku lalui saat ini tak akan mungkin untuk diputar ke beberapa bulan terakhir lagi. Maafkan aku Tuhan atas semua kelalaianku. 

Menunda sesuatu yang telah tau akhirnya, lebih menyesakkan daripada telat mengerjakan karena lupa
Tapi mengusahakan sesuatu setelah penyesalan justru menyisakan rasa bersalah yang mendalam 

Masih ada waktu sehari lagi untuk menemui buk Oji (pembimbing keduaku). Aku mempersiapkan mental dan kemampuanku agar dapat mempertahankan jawaban permasalahan skripsi yang telah aku teliti disekolah itu. Sedikit ragu, apa mungkin dosenku itu mau bertemu denganku karena telah lama aku tak menemuinya. Serta mengingat bahwa 2 bulan lagi pendaftaran sidang munaqasah akan berakhir. 

Aku terkesima saat mendapat notifikasi grup wisuda jurusanku. Ada apa? Kenapa? Pertanyaan itu terus melintas dibenakku.

~ Jadwal dikalender akademik dipercepat ~

Mataku nyalang saat melihat revisian kalender akademik kampusku. Seluruh jadwal dipercepat 1 bulan kedepannya. Pendaftaran sidang munaqasah yang awalnya tanggal belasan april maju menjadi 2 Maret. Astaga Tuhan, itu 2 Minggu lagi. 

Pupus sudah harapanku, aku akan tetap menambah semester lagi~~~

Dengan langkah gontai, ku langkahkan kakiku menuju kos. Semua bayangan harapan yang telah ku susun sebelumnya menari-nari di benakku. Mungkin ini hukuman karena kelalaian ku selama ini. Biarpun aku telah berusaha mengejarnya, tapi takdir tak mengizinkanku menggapainya.

Untuk apa aku terus berlari mengejar ketertinggalan itu bila ujungnya tidak dapat aku capai ? Bukankah aku hanya perlu berjalan bila akhirnya seperti ini ?

Bayangan ketertinggalan wisuda diantara teman sekelas terus berlabuh dalam ingatanku, mengingat hanya tersisa aku dan 1 orang temanku lagi yang tidak akan bisa wisuda periode ini. Aku merasa gagal dan merutuki diriku sendiri. Aku gagal memberi kabar bahagia untuk orangtuaku nanti. Mereka pasti juga kecewa dengan diriku. 

Aku pasrah bila memang begini akhirnya. Tidak ku buka skripsi ku malam itu. Mengingatnya saja sudah membuatku sedih. 

Paginya, aku tidak berencana lagi ke kampus karena harapanku sudah pupus. Namun mengingat sekarang hari Jum'at, membuat sedikit celah harapan itu muncul kembali. Ku kumpulkan niat tanpa berharap lebih untuk bisa wisuda periode ini, melainkan untuk melanjutkan apa yang bisa aku perjuangkan disaat ini.

1 jam lamanya aku menunggu didepan parkiran mobil dosen pembimbingku. ku langkahi kaki secara perlahan menuju ruangannya. Ku ketuk dan debar didada semakin cepat saat pembimbing tersebut menatap dan mempersilakan masuk.

Baru saja aku duduk dan menyerahkan skripsi ku, lembar demi lembaran terpenuhi oleh coretan pembimbingku sambil mengoreksinya. 

"Kenapa hasil nya bisa seperti ini? Kenapa persentase nya bisa seperti ini? Rumus apa yang saudara gunakan saat mendapatkan hasilnya? Apaaa iniii yang 20,5 sekian, dsb nya." Sahut beliau geram menatapku 

"Maaf buk" hanya itu yang bisa aku ucapkan saat itu

"Saya tidak mau tau. Ananda perbaiki dan perlihatkan ke saya besok." Ucap beliau

Aku sedikit berlari menuju kos untuk merevisi skripsi ku. Lembar demi lembaran ku perbaiki dengan kemampuan yang ku yakini. Hingga tak berselang lama kemudian tanpa sadar azan maghrib mengalihkan fokusku hingga menyadari sudah berjam-jam lamanya aku mengerjakannya. Tepat sebelum aku ingin mengistirahatkan laptopku, kecerahannya meredup hingga mati. Ku coba menghidupkan lagi, mengetes charger dan semua yang bisa aku lakukan. Namun tidak membuahkan hasil.

"Aaaa kenapaa malahh sekarang" (jerit batinku)

Setelah sholat maghrib, aku putuskan untuk pergi bersama adik kos mencari charger laptop disekitar kampus. Feelingku, kali ini charger yang bermasalah karena tidak merespon laptopku. Berharap dan berdoa semoga ada, namun di beberapa tempat tidak ada. Tak berselang lama kemudian, hujan membasahi kami dan saat ditempat terakhir kami temui, syukurnya ada charger laptop disana. Kami segera menuju kos dengan air hujan yang telah membasahi. Aku segera menggunakan charger yang telah ku beli itu. Dan aku lega, laptopku hidup kembali. Dengan basmalah, ku lanjutkan kembali revisi skripsi yang tersisa. 

"Kak laila, kakak masih santai-santai wae bikin skripsi." Sahut adik kos ku kamar sebelah 

"Iyain aja deh. Kenapa emang tar?" Tanyaku 

"Kakak ga liat dapur ?" Balasnya 

"Udah tadi. Kenapa tu?" 

"Kak, kakak cobalah buka pintu dekat dapur kak" ucapnya

"Ndak ah. Tari aja, kakak lagi sibuk." Jawabku

"Kalau nggak liat, nanti nyesel loh kak." Ucapnya 

Tak berselang lama, terdengar teriakan dari luar kos.

"Guysss.. air mulaii naik." Ucapnya 

Aku yang kebingungan langsung menyusul adik dan teman kos lain menuju sumber suara. Sedikit kaget melihat air yang kian menggenang dipermukaan jalan. Merasa wajar karena hujan lebat karena hujan deras, segera ku lanjutkan skripsi ku dikamar. Namun sebelum ke kamar mataku tertuju pada genangan air yang membasahi bagian bawah pintu dapur, segera ku cek dan ternyata...

"Guyssss... Banjiiirrrrr" teriakku

Air mulai memasuki lantai dapur dan dalam 1 menit mulai menyentuh seluruh permukaan dapur. Kami yang melihat pemandangan itu segera menuju kamar masing-masing dan segera merapikan barang untuk diletakkan ke bagian atas lemari. Dan dalam 3 menit saja, lantai kamar kos sudah kami kosongkan bersama-sama juga dengan 2 kamar lainnya. Aku segera beranjak ke arah pintu depan kos. Air membanjiri teras kos dan tak berselang lama kemudian masuk perlahan ke arah ruang tamu dan terakhir kamarku. Hujan semakin deras dan genangan air terus membanjiri tanpa henti hingga tak menyisakan bagian kering dari lantai kos. 

Aku duduk terdiam bersama teman dan adik kos lainnya, hingga tak berselang lama kemudian kami mendapat kabar dari kakak kos yang tak bisa menuju kos karena terhalang banjir. Banjir mengaliri ±500 m daerah sini. Untuk pertama kalinya banjir menimpa kos ku dari selama aku tinggal disini. 

Waktu menunjukkan pukul 22.00 lewat dan belum ada tanda-tanda hujan akan mereda, dia terus turun dengan deras seperti tidak peka akan kecemasan atas yang sedang aku perjuangkan. 

Tidak ada seperti tanda-tanda hujan akan berhenti dan banjir akan semakin naik hingga mencapai tulang keringku. Feelingku saat itu, kampus juga akan banjir dan tentunya tidak akan ada proses pembelajaran dan bimbingan. Hingga aku sedikit lega. Beruntung sinyal masih ada, ku hubungi salah satu temanku. Dan ternyata kos nya tidak kena banjir, hanya daerah dekat kos ku saja hingga ke jalan utama sisi kanan. Aku mulai merasakan kecemasan lagi, temanku pasti sedang mengerjakan skripsi nya, sementara aku ? Hanya merenungi diri sambil menunggu hujan reda dan banjir surut. 

Bila bukan karena perjuangan ini yang membuatku tertuju ke harapan itu. Semoga dengan kesabaran ini yang mengantarkan aku padanya

Jam menunjukkan pukul 01.00 wib, hujan mulai reda dan perlahan banjir mulai surut. Kami mulai membersihkan lantai kos hingga semuanya bersih dan lembab. Mataku tidak kuat lagi menahan kantuk dan tubuh terasa kurang fit. Namun, bagaimana dengan skripsi ku ? Sementara waktu pagi hanya beberapa jam lagi. Ku putuskan untuk tidur tanpa memikirkan skripsi lagi dan berencana membuatnya lagi subuh nanti. 

Jam menunjukkan pukul 05.00 untuk mengerjakan subuh 2 raka'at. Setelah itu ku arahkan kening pada sajadahku memasrahkan akan segala yang aku rasakan. Hingga saat aku membuka mata, waktu telah menunjukkan pukul 09.00. aku bergegas siap-siap dan menuju tempat print. Ada bagian hasil yang belum sempat aku revisi tadi, namun aku tidak ingin lebih lama lagi mengerjakan nya. Lebih baik aku jumpai pembimbingku dulu, urusan revisi bisa nanti. 

Ketakutan datang saat diri kita tidak siap atas sebuah proses, namun terkadang kekuatan datang saat kita berada dititik tersebut

~ Pukul 11.00 di ruangan dosen pembimbing ~

Tanpa amarah dan nada bicara jutek tidak seperti biasanya, beliau justru berbicara lebih lunak sembari menanyakan skripsi ku. Detik berikutnya, beliau menorehkan tanda tangan nya pada cover lembar skripsi ku dengan mencoret sedikit bagian lembar daftar isi dan bab 4. 

"Perbaiki yang saya tandai ini. Dan silahkan urus sidang munaqasah. Saya tunggu hari ini paling lambat pukul 15.00" sahut beliau

Tanpa sadar aku menyalami dan menatap beliau dengan haru. Ku langkahkan kaki meninggalkan ruangan berdinding coksu itu. Penglihatanku perlahan memburam, ada sesuatu yang sesak membuatku sedikit kesulitan bernapas. Ku tatap berkali-kali tandatangan itu sambil memastikan ini bukankah suatu hal mustahil yang ku pikirkan dulu ? Berkali-kali bongkahan harapan wisuda yang di idamkan semua orang di semester akhir itu kembali menguasai perasaanku. 

Angan yang telah lama pudar itu, apa benar akan aku genggam lagi? Apa aku pantas untuk itu?

Aku urus semua hal yang seharusnya aku lakukan. Dengan bantuan teman-teman seperjuangan ku dan tentunya sahabatku, vira. Ia menangis mendengar kabar itu. "Akhirnya, kita bisa wisuda sama-sama ra" batinku.

Aku merupakan orang terakhir yang sidang munaqasah pada hari terakhir jadwal sidang munaqasah, sebelum 2 hari lagi pembukaan pendaftaran wisuda periode ini. 

Skripsi ku jauh dari kata sempurna. Ada banyak bagian dari setiap paragraf yang seharusnya diperbaiki lagi. Ada beberapa angka yang kurang tepat dalam penulisan nya. Dan ada beberapa rumus yang ketikannya kurang rapi. 

Namun, aku bangga dengan diriku karena telah mampu menyelesaikannya hingga ditahap ini. Bukan karena aku hebat mengerjakannya, tapi karena sebuah harapan dan angan yang ingin aku kejar dan menjadi nyata. Bila rasa haru dan bahagia ini tidak pantas untukku, maka aku persembahkan untuk orang-orang yang aku sayangi. 

Tidak ada kata terlambat dalam berusaha 
Teruslah kejar harapan dan anganmu
Bila berhasil engkau mendapatkan kebahagiaan 
Dan bila gagal engkau mendapatkan pelajaran 
Salam hangat dariku ~ Laila
🌷



#draft2024-2025
@qiylr


Komentar

Postingan populer dari blog ini